Panitia Penyelenggara Muzakarah Tauhid Tasawuf ke IV Asia Tenggara KH. Zein Djarnuzi mengatakan bahwa Muzakarah yang sedang dilaksanakan ini adalah gerakan dari kaum sufi dan tasawuf untuk menyatukan umat Islam kembali kepada agamanya, yaitu Allah dan Rasulullah.

“Yang kita bicarakan di sini adalah kemauan untuk melatih ilmu yang diwajibkan dalam agama Islam yaitu Iman, Islam dan Ikhsan,” jelas Kiai Zein dalam pembukaan Muzakarah di Cibinong Bogor (25 Agustus 2016).

Ajaran Tasawuf perlu disosialisasikan, agar manusia zhohirnya bisa beramal sholeh dan bathinnya berakhlak mulia. Aqidah, hukum syara’ dan tasawuf masuk ke dalam batin setiap manusia, dan zhohirnya melahirkan amal-amal yang baik untuk dirinya dan sesama manusia. Manusia bisa berenang mengarungi laut fana dengan tajalli keberadaan Allah dalam bathinnya pada Ahadiyat Dzat, untuk menghilangkan ananiyah keakuan dan kesombongan wujud diri agar dapat berkasih sayang.

“Sebab wujud diri adalah penyebab terjadinya permusuhan, pertikaian dan pembunuhan dalam masyarakat umat Islam itu sendiri, sebagaimana yang kita saksikan dewasa ini, sehingga umat Islam dalam keadaan Lemah,” jelas Kiai Zein dalam sambutannya.

Menurutnya, gerakan tasawuf dan kesufian tidak terhenti pada muzakarah ini saja, supaya semua ulama, kiai, pejabat, penguasa, hartawan, cendekiawan, masyarakat semua dapat melanjutkan dan membudayakan tasawuf di kantor, di tempat kerja dan di manapun berada, agar kebaikan dapat menyinari seluruh umat manusia baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

“mari kita bersama-sama untuk memperjuangkan ajaran Islam yang baik ini, terutama di Asean dan di belahan dunia,” paparnya.

Dalam kesempatan ini Ketua DPRD Kabupaten Bogor, Ade Ruhendi menyambut baik kegiatan Muzakarah ini dan berharap doa dari kiai se Asia Tenggara ini membuat Indonesia semakin baik. Baik bagi seluruh warga bogor dan Indonesia secara umum.

Ketua NU Kabupaten Bogor KH Ramdhani yang hadir dalam kesempatan ini mengungkapkan bahwa Nahdlatul Ulama sebagai organisasi para ulama menyambut baik gerakan tauhid tasawuf.

Abuya Syekh H. Amran Waly Al-Khalidi yang juga murabbi Majelis Pengkajian Tauhid – Tasawuf (MPTT) yang turut membuka acara ini mendapat sambutan yang meriah dari para jamaah yang hadir untuk mencium tangannya.

Menurutnya, inti ajaran tauhid sufi, pedoman warisan sejarah gemilang peradaban umat khususnya di Nusantara agar berupaya bangkit kembali. Pembentukan akhlak mulia untuk mencapai tauhid hakiki, hubungan tasawuf dengan ilmu-ilmu keislaman serta pergerakan tauhid sufi dalam memberkahi Nusantara saat ini terus diajarkan di MPTT.  Ia menuturkan, gerakan sufi senantiasa menekankan akhlak mulia dan perdamaian, bukan gerakan yang membawa kemarahan, kebencian, dendam, radikalisme dan terorisme.

KH. Muhammad Dhiyauddin Qushwandhi

KH. Muhammad Dhiyauddin Qushwandhi

Sementara itu, Pimpinan Keluarga Besar Walisongo, KH. Muhammad Dhiyauddin Qushwandhi, mengaku prihatin melihat kondisi umat Islam saat ini yang semakin mengalami kemunduran. Islam di Indonesia seakan mengalami kemunduran bersaing dengan jaman. Padahal, banyak yang meyakini Indonesia bisa menjadi peradaban Islam dunia.

Ia melihat, saat ini setidaknya ada beberapa pola keagamaan umat Islam di Indonesia seperti ornamental tapi masih jauh dari Islam, serta verbal yang ucapannya bagus namun tidak di perilaku. Ada pola keagamaan ritual dan seremonial, yang biasanya kuat di ibadah tapi lemah di tanggung jawab sosial. “Maka itu, misi utama kali ini adalah kebangkitan Islam, tapi yang rahmatan lil alamin,” ujar Dhiyauddin.

Diaduddin menerangkan, kebangkitan Islam itu bisa diwujudkan dengan memperbanyak dan memperdalam kajian-kajian Islam, dan pertemuan bersifat silaturahim umat Islam yang terprogram.

Terakhir, Islam butuh kerjasama pemuka agama dan pemerintah, karena masing-masing memiliki tanggung jawab atas kebangkitan Islam. “Sehingga kembali ke jalan nusantara sebagai mercusuar peradaban dunia,” kata Dhiyauddin.